Adventure

Hello Nikita dan Nairus

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Bismillahirrahmanirrahim.

Haloo sahabat Azzahra ! 🙂

Kali ini aku mau cerita tentang rasanya Say Hello to Nikita and Nairus secara langsung. Fyi, Nairus dan Nikita ini adalah ikan lumba-lumba yang hidup di tempat penangkaran yang lokasinya berada di salah satu pulau di Kep. Riau.

Tepatnya Pulau Muncaras.

Sebuah pulau yang sangat bersih, damai, indah dan no one can entered, kecuali kalian punya ijin resmi dari instansi terkait. Nah, Pulau Muncaras itu suasananya seperti di bawah ini :

DSCN0586

nah ini dia suasana yang sempat diambil dari sisi barat Pulau Muncaras. Untuk papan -papan yang mengapung itu sebenarnya jalan penghubung dermaga kecil tempat berhentinya kapal dengan Pulau Muncaras. Dan tepat dibawah sanalah si Nairus dan Nikita tinggal.

DSCN0589

nah, kalau foto yang diatas ini diambil dari sebelah timur Pulau Muncaras. In Frame di foto itu Kepala Taman Nasional Kutai, Bapak Nur Patria.

DSCN0638

terereeeeet… penampakan diatas itulah si Nairus dan Nikita! Si LUMBA-LUMBA yang sangat lucu, cerdas, jinak dan menggemaskaaaan. MasyaAllaah.. Maha Besar Allah, Tuhan Semesta Alam yang telah menciptakan makhluk hidup dengan Kebesarannya.

Sebenernya, si Nairus dan Nikita ini adalah dua lumba-lumba yang sengaja dijinakkan dan dilatih beberapa gerakan. Seperti memberi salam dengan isyarat menggepakkan siripnya, kemudian beratraksi sebelum mengambil makanan dan menghembuskan udara dari lubang yang ada di bagian atas kepalanyaaa…

DSCN0666

ini nih tangan pelatih Nairus dan Nikita..

DSCN0628

nah, momen lucu adalah ketika kita mau ambil gambar, eh si lumba-lumba dua ini ambil posisi daaan ngeliat ke arah kamera. wkwk cerdas yaa
ternyata nggak cuma manusia aja yang bisa pose saat difoto, Lumba-lumba juga bisaa

1441440752766

oke sekian dulu dari aku.

see you next stories

Advertisements
Adventure

Wisata Sejarah dan Budaya di Pulau Penyengat, Kep. Riau #Part1

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Postingan kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku berkunjung ke salah satu pulau kecil di Kepulauan Riau, Indonesia.Kebanyakan orang bilang Pulau Belakang Padang. Mau tau ceritanya? Yuk scroll down !

#ZahraTravel #ZahraLife

Berkeliling Indonesia adalah impianku. Mengunjungi pulau yang bersejarah, menikmati indahnya bumi pertiwi, merasakan segarnya air, semilir angin di pantai, sejuknya udara di pegunungan, hangatnya udara di pesisir dan masih banyak lainnya. Menurutku mengunjungi tempat wisata di dalam negeri mempunyai nilai tersendiri dan lebih berarti.

Kenapa gitu?

Ya menurutku, dengan kita berkunjung tempat wisata dalam negeri maka dengan tidak langsung sebenarnya kita ikut serta dalam promosi wisata tersebut. Lewat video (vlog), foto dan tulisan (blog) yang kita muat di media sosial. Selain itu, kita akan dapat pelajaran berharga dan pengalaman yang tak terlupakan. Misalnya : kebanyakan wisata lokal di Indonesia itu sulit dijangkau, jadi kita harus rela jalan kaki berkilo-kilo atau naik perahu melewati sungai bahkan laut untuk sampai di tempat tujuan. Sensasinya terasa banget deh! Ya nggak sih?

Kunjungan ke Pulau Penyengat ini adalah kali pertama di hidupku. Tepat dipertengahan tahun 2014, aku berkesempatan mengunjungi pulau bersejarah ini. Awal mula perjalanan kami dimulai dari Sekupang -salah satu daerah yang ada di Kota Batam- menuju Pelabuhan Telaga Punggur, pelabuhan yang menghubungkan Batam dengan Kota Tanjung Pinang. Perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai di pelabuhan sekitar 45 – 60 menit, tergantung sama kondisi jalannya macet atau enggak. Perjalanan kala itu ditempuh dari barat menuju timur Kota Batam.

Untitled

Rute perjalanan bisa dilihat melalui peta di atas ini.

89201514367

Sesampai di Pelabuhan Telaga Punggur aku sempet foto di deket tempat pemberhentian  kapal.

Perjalanan menuju Pulau Penyengat dilanjutkan dari Pelabuhan Telaga Punggur menuju ke Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang. Transportasi yang digunakan waktu itu yaitu Kapal Boat -sebenernya aku nggak begitu paham sama jenis kapalnya apa, ya aku tulis Kapal Boat aja deh-. Waktu tempuhnya sekitar 1 jam – 1 jam 30 menit. Setelah sampai di Pelabuhan Sri Bintan Pura, perjalanan selanjutnya yaitu menuju Pelabuhan Pulau Penyengat.

Sepanjang jalan keluar di Pelabuhan Sri Bintan Pura, tampak banyak sekali pedagang yang berjualan otak-otak ikan, udang, kepiting dan makanan olahan khas berbahan dasar ikan lainnya.

2014-06-28 11.38.22

Nah, otak-otak yang dijual itu dimasukan kedalam daun kelapa terus dibakar.

Setelah menikmati beberapa buah otak-otak, aku melanjutkan perjalan menuju Pelabuhan Pulau Penyengat yang jaraknya dari Pelabuhan Sri Bintan Pura sangat berdekatan. Istilahnya keluar P. Sri Bintan terus masuk ke P. Pulau Penyengat deh!

2014-06-28 11.43.24

Gambar di atas ini adalah pintu masuk Pelabuhan atau Dermaga Pulau Penyengat.  Jarak tempuh dari Tanjung Pinang menuju Pulau Penyengat sekitar 6 km dan dapat dijangkau dalam waktu 10 – 15 menit. Untuk sampai di Pulau Penyegat, aku harus naik kapal kecil yang biasa disebut Pong-pong.

2014-06-28 14.55.51

Nah kurang lebih Kapal Pong-pong yang digunakan untuk mengangkut penumpang seperti gambar di samping ini.

2014-06-28 12.08.28

Dari dalam Kapal Pong-pong kalian bisa merasakan sensasinya naik kapal yang peka sama ombak sekaligus menikmati indahnya rumah apung di tepi pulau.

IMG_20140628_150108

 

Oke sekian cerita dari aku ya…

Kita lanjut di Wisata Sejarah dan Budaya di Pulau Penyengat, Kep. Riau #Part2

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Adventure

Si Penyu

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Hallo semuanya, kali ini aku bakal cerita tentang pengalamanku for the first time, ikut ngelepasin penyu ke laut.

So, Cekitdot!!

1471911011806

Tahun 2016 silam, tepatnya tanggal 10 Agustus. Berketepatan dengan Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional. Gimana ya rasanya.. Emm jelas yang pertama bersyukur banget, seneng dan tak terlupakan. Pertama kalinya aku bisa ngeliat sendiri gimana si penyu ini renang kesana kemari, muter muter di sekitar speedboat kami saat itu. Aku ngerasain betapa dia -si penyu- bahagia banget bisa kembali ke tempat asalnya..

1471911013524

Jadi kronologinya bermula dari laporan seorang warga kepada Bunda Nenny -Walikota Bontang- jika ada transaksi jual beli penyu yang katanya mau dikonsumsi gitu..

Ya Allah, serius aku dengernya jadi pingin nangis gitu. Kenapa ya kok tega mau konsumsi dagingnya, padahal penyu itu kan lucu, keberadaannya sangat bermanfaat bagi kehidupan di pesisir laut, hewan yang unik dan yang terpenting dia dilindungi.

Setelah dapat laporan tersebut, akhirnya pihak bunda melakukan sidak dan intinya mengambil alih kepemilikan penyu itu sebelum akhirnya diserahkan ke Balai Taman Nasional Kutai dalam rangka HKAN 2016. Alhamdulillah !!!

IMG_5658

Ini tampang si penyu sebelum dilepasliarkan ke lautan. Cantik ya..

IMG_5730

Prosesi penyerahan si penyu dari pihak Bunda Nenny -berhijab hitam- kepada pihak BTN Kutai, yang diterima oleh Bapak Nur Patria -pakai jam tangan-, selaku Kepala Balai.

IMG_5731

Proses penyiraman air laut untuk mencegah dehidrasi si penyu oleh Manggala Agni Daops Sangkima

IMG_5733

Setelah proses serah terima selesai, penyu segera di lepas liarkan ke lautan. Hal ini dilakukan untuk menghindari dehidrasi dan kemungkinan terburuk yang akan menimpa si penyu ini. Pelepasan penyu ini melalui pelabuhan kecil di daerah Tanjung Limau.

1471911009408

Banyak warga yang antusias melihat, mengelus-elus dan foto bersama bareng si penyu ini loh. Dia jadi primadona sesaat, hehe.. Nah, kalau yang pakai kaos hitam ini adalah Kader Konservasinya TN Kutai, mereka inilah yang bertugas

1471911022339

Ini adalah kenangan yang paling indah dan lucu banget. Sebelum kami melepaskan penyu ke laut, kami melihat dan memastikan kondisi sekitar kami jauh dari jangkauan nelayan. Wah, kalau dekat dengan nelayan, bisa saja terjaring lagi si penyu-nya… kan kasian. Saat itu, kami bener-bener mirip detektif!

Aku nggak tau seberapa jauh speed kami melaju dari pelabuhan. Tapi yang aku ingat saat itu adalah gelombang yang cukup membuat perutku keroncongan. Bukan karena lapar, tapi mirip ketakutan karena tdak bisa renang. Udara yang hangat dan sinar matahari yang teriiik, tepat pukul 13.00 WITA. Ya, kalian bisa banyangkan betapa panasnya udara di tengah terik matahari dan luasnya lautan.

Setelah menemukan lokasi pelepasan yang cocok, akhirnya kami memasukan si penyu ke dalam laut. Awalnya di muter muter di dekat speedboat -mungkin itu cara dia ngasih salam perpisahan ke kami, ahh sedih-. Menyelam, muncul lagi, menyelam, muncul lagi, kemudian menjauh menjauh dan akhirnya mulai masuk ke perairan yang agak dalam. Kami masih menunggu, memastikan si penyu tidak muncul ke permukaan lagi.

Perjalanan ini adalah pengalaman yang berharga sekaligus sebuah pelajaran bahwa, berbuat baik itu tidak sekedar kepada manusia saja. Tapi berbuat baik itu adalah tidak membuat kerusakan di bumi yang termasuk di dalamnya kewajiban kita menjaga kelestarian ekosistem dan tidak menjualbelikan / mengkonsumsi hewan yang statusnya dilindungi

 

Thoughts

Masa SMA, Masa Paling Indah

Assalamualaikum Wr. Wb..

Hallo semuanya, kal ini aku akan memposting ulang cerita jaman SMA-ku

Foto di bawah ini diambil ketika momen Peringatan Hari Kartini 21 April 2012, tepatnya waktu aku duduk di bangku SMA kelas 11. Pas semester 1, kami semua masuk di kelas yang sama tetapi, pas naik ke semester 2 kami masuk ke kelas sesuai minat masing-masing. Oh iya, sekolahku ini adalah satu-satunya SMA di Kota Malang yang menggunakan sistem SKS -mirip banget kayak sistemnya anak kuliah gitu- loh. Istilahnya pakai semester, ada KRS, ada SP, ada KHS, ada IP dan IPK. Keren kan!!

532745_2994064427486_1483726178_n

So, cekitdot!

Masa SMA adalah Masa Paling Indah sepanjang masa –Kebanyakan orang bilang gitu-. Bagiku masa sekolah adalah perjalanan petualangan yang sangat seru. Sekolah berarti kita belajar memahami diri sendiri, teman-teman baru, lingkungan baru dan orang-orang baru yang tentunya lebih banyak pengalaman dan pengetahuan dari kita.

165737_1257264328569_2491868_n

Semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru.

Pernyataan tersebut adalah one of the best statement yang paling aku suka. Dengan statement tersebut rasanya aku jadi lebih bisa menghargai setiap orang baru yang datang dihidupku dan menghargai setiap tempat yang aku kunjungi. Sebenarnya bukan cuma belajar menghargai dan memahami aja sih. Banyak hal lain yang harus dipelajari juga seperti cara pandang, memanajemen perasaan dan pikiran, mengkontrol emosi, manajemen waktu dan uang.

Selama aku sekolah di SMA, aku merasa jadi orang yang lebih dewasa dan santai dalam menghadapi sesuatu. Karena aku banyak belajar dari teman-temanku ini. Mereka yang notabene nggak seumuran sama aku –it means, ada yang lebih muda dan ada yang lebih tua dari aku. Tapi kita sekelas– bisa ngasih nasehat, saran dan kritikan ketika aku di posisi up and down. Mereka always ON!

which one are you really?
your emotions controlling you or you who control your emotions?

Aku pribadi lebih suka “Aku mengendalikan Emosiku dibandingkan Emosiku mengendalikanku” karena bagiku itu lebih normal. Kalau emosi yang mengendalikan kita, menurutku kita jadi mirip orang yang abnormal gitu, mirip kayak orang yang gangguan jiwa. In my opinion ya. Please dont Judge me! Kata temen-temenku sih kalau kita pegang kendali emosi kita, maka kita akan selamat. Begitupun sebaliknya. Sebenernya aku sih agak nggak paham sama kata-kata mereka, tapi aku setuju.

Aku bersyukur banget dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang PRO and SUPPORT banget sama PASSION-ku. Beberapa dari mereka ada yang punya visi hidup yang sama kayak aku, ada yang sama cita-citanya, ada yang sama-sama anak pertama, ada yang sama-sama naik angkot pas pulang sekolah, ada yang sama-sama suka jalan kaki dan kesamaan-kesamaan lainnya. Dari kesamaan tersebut there was a weighty conversation.

37163_1283238859336_6009124_n

Seringkali pas pulang sekolah kita diskusi tentang “how to be someone acceptable to others?” kayak foto di atas gitu lah kira-kira momen diskusi yang bikin aku kangen berat sama mereka. Sejatinya pelajaran hidup itu bukan dari mana dan dari siapa, tapi bagaimana kita sebagai manusia itu menanggapi dan menghadapinya.

Walaupun kita masih anak SMA tapi pas lagi bagus dan bener pikirannya gini aja sih diskusinya, nggak yang tiap-tiap waktu gitu. Ya kali tiap-tiap waktu, wkwk jadi gila dong. Mikir kimia biologi aja gak nyampek! Mikir sejarah yang selalu tiba-tiba amnesia pas ditanya sama bu guru

73909_167529433273965_7725872_n

218142_1496080140235_7296411_n

Disamping ngomongin soal-soal pelajaran yang bikin pusing dan soal hidup di masa depan yang abu-abu, kita juga nggak lupa sama main kok, main selepas sekolah masih pakai sepatu dan seragam sekolah. Pulangnya sore, numpang makan aja di rumah temen, ngabisin makanan, bikin kotor dan brisik. WKWK, ya namanya anak SMA. Hahaha

Tapi yang aku suka dari masa sekolah adalah sifat temen-temenku yang jujur dalam menilai sesuatu dan sifat kompetitif yang sportif!

Adventure

Di Balik Hutan Sangkima yang Basah

IMG_0620

Cuaca pagi itu cukup bersahabat. Seolah langit paham akan keingian kami untuk menjelajahi salah satu hutan yang termasuk dalam Kawasan Konservasi Taman Nasional Kutai. Namun sesampai di depan pintu masuk, keadaan tidak sesuai dengan harapan. Kondisi di dalam hutan cukup basah, akibat semalam diguyur hujan yang sangat deras. Sehingga, kami harus rela menunggu genangan air itu menyurut dalam beberapa menit.

1473241462973

 (dari kiri : Ica, Ka Upri, -me-, Ka Diana, Mba Nora)

Setelah diperbolehkan masuk oleh salah satu penjaga, kami pun memulai berjalan memasuki hutan di atas papan kayu ulin. Walaupun kami berjalan dengan hati-hati, tetap saja kami berulang kali terpeleset akibat walkboard –papan kayu ulin yang licin. Namun, keadaan ini tidak membuat semangat kami menurun. Selama perjalanan menjelajah hutan, kami bertiga sangat antusias saling bertanya tentang banyak hal yang sebenarnya kami sama-sama tidak tahu. Boleh dibilang kami hanya menduga-duga.

IMG_20161114_140706

Seketika, langkah dan pandangan kami tertuju kedepan. Terpana pada sebuah Pohon Ulin yang cukup besar. Mungkin dibutuhkan sekitar 7 orang dewasa untuk bisa memeluk pohon ini. Benar-benar hebat dan menakjubkan. Kami beruntung bisa melihat ikon Hutan Sangkima ini yang merupakan salah satu Pohon Ulin terbesar di dunia. Setelah puas mengambil foto dengan pohon ulin, kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan.

IMG_0556

IMG_0558

(di belakangku ini namanya Mas Rido -partner jelajah hutan-)

Selangkah demi selangkah kami lakukan. Hingga akhirnya kami harus menyebrangi Jembatan Sungai Lotte. Kami berharap ada seekor buaya yang menampakkan diri. Namun, semua hanya harapan belaka.

IMG_0566

Perjalanan panjang ini cukup membuat kami terengah-engah. Bagaimana tidak, medan yang kami lewati cukup menguras tenaga. Menaiki bukit, menuruni lereng, dan ditambah lagi kami harus melewati semak-semak yang menyebabkan tangan kami digigit serangga. Perjalanan kami terhenti di puncak tertinggi Bukit Meranti.

IMG_0584

(Pohon Meranti yang difoto dari bawah)

IMG_0587

(Pohon Meranti bagian bawah -bayangin aja akarnya pada keluar gitu-)

Mata kami menebar ke seluruh arah yang menampakan pepohonan kering terbakar. Ini masih setengah perjalanan. Kami memilih untuk istirahat sejenak di sebuah gazebo kecil sambil menikmati hembusan angin semilir. Kami merebahkan diri memandangi birunya langit di bawah rimbunnya pohon meranti. Suasana alam ini sangat damai.

Kami meneruskan perjalanan menuruni lereng demi lereng. Merintis jalan baru melewati semak- semak yang tinggi, karena jalan yang seharusnya kami lewati terhalang oleh Pohon Meranti yang tumbang. Melewati beberapa jembatan tali yang cukup menantang nyali. Karena terlalu semangat, sampai ada adegan sepatu tersangkut di salah satu pengait jembatan. Auuh! Haha

IMG_0637

Di tengah perjalanan, kami melihat air terjun kecil yang jernih dengan arus yang cukup tenang.Kami memutuskan mampir untuk mencuci muka dan tangan. Tidak ada keraguan bagi kami untuk meminum air sungai tujuh putri tersebut. Hal yang paling menantang kami yaitu menyebrangi sebuah sungai diatas seutas tali tanpa pengaman. Itu bukan sekedar genangan belaka. Akan tetapi sebuah anak sungai yang kedalamnya mencapai 80 cm.

IMG_0657

Butuh waktu yang lama bagi kami untuk melangkah walaupun hanya beberapa senti. Setelah kami bertiga berhasil melalui jembatan uji nyali tersebut, kami melewati rumah pohon.

IMG_0653

Karena tangganya basah kami memilih tidak naik dan memutuskan meneruskan perjalanan. Tidak ada pilihan selain menerjang genagan air untuk bisa keluar. Dibalik hutan yang basah banyak hal yang kami dapatkan. Perjuangan, pengetahuan, kedamaian dan kebahagiaan.

IMG_0662

Alhamdulillah, dari masuk hutan sampai keluar hutan masih diberikan keselamatan jiwa dan raga. Akhirnyaaaa, selesai juga petualanganku kali ini menjelajahi hutan di Kalimantan Timur for the first time!!! Rasanya seneng banget dan unforgettable.

Location : Sangkima Jungle Park, Kutai National Park, East Borneo.